Nama : Muhammad Aswin Albian
Nim : 11.41010.0232
Subnetting dan VLSM
Terdapat
sebuah perusahaan yang membutuhkan sebuah jaringan subnet untuk
masing-masing divisi pada perusahaan tersebut, dengan rincian sebagai
berikut :
~ Divisi Marketing = 50 buah
~ Divisi Keuangan = 25 buah
~ Divisi HRD = 10 buah
~ Divisi TI = 10 buah
Proses perhitungan nilai dari subnetting dari masing-masing divisi adalah sebagai berikut :
* Marketing (50 Host) :
50 host + 1 router + 1 alamat broadcast + 1 alamat network = 53
decimal 53 = biner 110101 = 6 bit
subnet masknya = 11111111.11111111.11111111.11000000 /26 = 255.255.255.192
prefix = /26
Network Address = 172.16.3.0 /26
Total IP Address = 2^6 = 64 IP Address
Gateway = 172.16.3.1
Broadcast = 172.16.3.52
Range IP = 172.16.3.2 s/d 172.16.3.51
* Keuangan (25 Host) :
25 host + 1 router + 1 alamat broadcast + 1 alamat network = 28
decimal 28 = biner 11100 = 5 bit
subnet masknya = 11111111.11111111.11111111.11100000 /27 = 255.255.255.224
prefix = /27
Network Address = 172.16.3.53 /26
Total IP Address = 2^5 = 32 IP Address
Gateway = 172.16.3.54
Broadcast = 172.16.3.95
Range IP = 172.16.3.55 s/d 172.16.3.94
* HRD (10 Host) :
10 host + 1 router + 1 alamat broadcast + 1 alamat network = 13
decimal 13 = biner 1101 = 4 bit
subnet masknya = 11111111.11111111.11111111.11110000 /28 = 255.255.255.240
prefix = /28
Network Address = 172.16.3.96 /28
Total IP Address = 2^4 = 16 IP Address
Gateway = 172.16.3.97
Broadcast = 172.16.3.111
Range IP = 172.16.3.98 s/d 172.16.3.110
* TI (10 Host) :
10 host + 1 router + 1 alamat broadcast + 1 alamat network = 13
decimal 13 = biner 1101 = 4 bit
subnet masknya = 11111111.11111111.11111111.11110000 /28 = 255.255.255.240
prefix = /28
Network Address = 172.16.3.112 /28
Total IP Address = 2^4 = 16 IP Address
Gateway = 172.16.3.113
Broadcast = 172.16.3.127
Range IP = 172.16.3.114 s/d 172.16.3.126
Subnetting berdasarkan jumlah host dan VLSM ( Variable Length Subnet Mask )
Misalkan dalam sebuah perusahaan memiliki 4 jaringan, dimana banyaknya host di setiap jaringan adalah tidak sama. Misalkan:
- Jaringan A memiliki 40 host.
- Jaringan B memiliki 100 host.
- Jaringan C memiliki 150 host.
- Dan 2 subnetwork dibutuhkan untuk settingan IP di router sebagai gateway.
Bagilah IP 172.16.0.0/16 agar jaringan diatas bisa saling berkomunikasi.
Sebenarnya
soal ini sama seperti soal soal yang sebelumnya. Perbedaannya adalah
jika pada soal sebelumnya adalah nilai n yang didapat ditempatkan pada
oktet paling kiri dan jumlah yang ditambahkan adalah 1. Maka pada kasus
seperti ini, oktet yang ditempatkan adalah paling kanan dan jumlah yang
ditambahkan adalah 0.
Daripada gw ngoceh nga jelas, lebih baik langsung aplikasinya saja ya..
Seperti
biasa gunakan rumus, 2^n – 2 >= a. a disini adalah jumlah host
maksimum. Di kasus ini jumlah jaringan yang paling banyak adalah 150
maka, nilai a = 150
2^n – 2 >= 150, dimana nilai n yang memenuhi syarat n = 8
Subnet awal : 11111111.11111111.00000000.00000000 menjadi Subnet baru : 11111111.11111111.11111111.00000000.
Penjelasan,
didapat nilai n = 8, maka pada oktet terakhir (oktet ke 4) bit 0 diisi
dari kanan ke kiri sebanyak 8 digit. Setelah itu, sisa oktetnya dalam
kasus ini yaitu oktet ke 3 diberi bit 1.
Seperti
biasa dilakukan perhitungan kenaikan interval. Dari subnet mask baru
yang didapat, kenaikan interval adalah sebagai berikut:
172.16.0.0 –> tidak dapat digunakan..
172.16.1.0
172.16.2.0
172.16.3.0
172.16.4.0
172.16.5.0
172.16.6.0
172.16.7.0
……
……
172.16.254.0 –> tidak dapat digunakan
Setelah
didapat subnetworknya kita bisa assign subnetwork 172.16.1.0 untuk
jaringan A, 172.16.2.0 untuk jaringan B, 172.16.3.0 untuk jaringan C,
dan 2 subnet untuk setting IP di router kita bebas memilih, dalam hal
ini gw kasih 172.16.4.0 dan 172.16.5.0
Namun,
kalau diperhatikan jika kita assign 172.16.4.0 dan 172.16.5.0 sebagai
IP gateway di router, rasanya sangat berlebihan. Coba kalau ditinjau,
dalam network 172.16.4.0 bisa digunakan untuk assign 254 network ,
didapat dari 2^8 – 2 (untuk keperluan network id dan broadcast domain).
Oleh karena itulah, kita gunakan lagi suatu metode yang disebut dengan VLSM ( Variable Length Subnet Mask).
Secara kasar, kita bisa mengartikan VLSM sebagai sebagai “subnetting dalam sebuah subnetwork”.
Lebih jelas lagi kita pakai kasus diatas saja untuk menerapkan VLSM ya..
Mula mula, kita urutkan jaringan dari yang paling banyak hostnya:
1. Jaringan C : 150 host
2. Jaringan B : 100 host
3. Jaringan A : 40 host
4. Router masing2 2 host
Penerapan VLSM adalah sebagai berikut:
2^n >= 150, n = 8 berarti Jaringan C menggunakan subnet yang sama seperti diatas
1. Jaringan C : 150 host menggunakan range IP 172.16.1.1 – 172.16.1.255 / 24
2^n – 2>= 100, n = 7
Kenaikan 2^7 = 128
Subnet baru : 11111111.11111111.11111111.10000000
2. Jaringan B : 100 host menggunakan range IP 172.16.2.1 – 172.16.2.127 /25
2^n – 2>= 40, n = 6
Kenaikan 2^6 = 64
Subnet baru : 11111111.11111111.11111111.11000000
3. Jaringan C : 40 host menggunakan range IP 172.16.2.129 – 172.16.2.191 / 26
2^n – 2>= 4, n =2
Kenaikan 2^2 = 4
Subnet baru : 11111111.11111111.11111111.11111100
4. Masing2 IP untuk gateway adalah 172.16.2.193 – 172.16.194 / 30 dan 172.16.2.197 – 172.16.2.198 / 30
VLSM
adalah pengembangan mekanisme subneting, dimana dalam VLSM dilakukan
peningkatan dari kelemahan subneting klasik, yang mana dalam clasik
subneting, subnet zeroes, dan subnetones tidak bias digunakan. selain
itu, dalam subnet classic, lokasi nomor IP tidak efisien.
Manfaat
dari VLSM adalah memberbaiki kekurangan metode conventional subnetting.
Dalam subnetting tradisional, semua subnet mempunyai kapasitas yang
sama. Ini akan menimbulkan masalah ketika ada beberapa subnet yang jauh
lebih besar daripada yang lain atau sebaliknya. Sedangkan pada metode
subnetting VLSM semua subnet tidak harus mempunyai kapasitas yang sama,
jadi bias disesuaikan dengan kebutuhan kita.